Entri Populer

Jumat, 24 Desember 2010

Gerakan pemuda di Indonesia


Gerakan pemuda dalam sejarah perubahan peradaban dunia berkali-kali telah menorehkan tinta emasnya. Dimulai pada awal abad ke-12 dengan berdirinya Universitas Bologna di Paris. Saat itu lebih dikenal dengan semboyan ‘Gaudeamus Igtiur, Juvenes Dum Sumus” (kita bergembira, selagi masih muda). Pergerakan pemuda senantiasa memberikan pencerahan baru dalam setiap sikapnya tak terkecuali di Indonesia, salah satu elemen yang turut membawa negara ini merdeka ialah kaum muda.
Gerakan pemuda di Indonesia ini dimulai dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Namun, istilah pemuda tersebut mengalami spesialisasi dengan sebutan mahasiswa, sosok yang memiliki kadar intelektual tinggi. Hal ini sah-sah saja karena untuk mengadakan perubahan bangsa tidak cukup dengan semangat ‘muda’ dituntut juga intelektual yang mumpuni dan yang menjadikan nilai lebih mahasiswa adalah gerakan mereka relatif bebas dari berbagai intrik politik. Sebut saja kedudukan, jabatan dan bahkan kekayaan.
Sumpah Pemuda adalah momen penting bagi perubahan bangsa Indonesia. Generasi muda saat itu menjadi pelopor persatuan nasional dalam simbol tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda. Sejarah bangsa ini selalu diwarnai oleh pemuda sebagai komponen utama. Pemuda memiliki semangat tinggi untuk melakukan perubahan. Energi positif itu terpancar ketika mereka melihat suatu kejanggalan pada bumi pertiwi. Pola pikir dan daya analisis yang tinggi terhadap masalah bangsa membuat mereka merasa terpanggil untuk melakukan percepatan perbaikan tanah air menuju ke arah yang lebih baik. Lalu, melihat realita sosial saat ini, apa yang bisa mereka lakukan?. Persaingan global yang semakin panas ditambah pesatnya perkembangan dunia teknologi membuat ekonomi kita semakin jauh tertinggal. Tayangan televisi yang tidak mendidik justru semakin marak disiarkan. Banyak generasi muda kita yang terjerumus ke dalam lembah kebodohan hanya karena tidak mampu memilah tayangan yang pantas ditonton.
Melihat kenyataan yang terjadi saat ini, maka dibutuhkan sosok pemuda yang dapat melakukan akselerasi perbaikan bangsa. Akselerasi tersebut dapat terwujud melalui tindakan nyata dan peran yang dapat mereka berikan. Lalu, peran seperti apakah yang dapat membawa kita menuju ke gerbang kesejahteraan ?. Tidak adanya ekonom brilian yang bergerak bersama di negeri ini untuk dapat memahami, mencerna dan menemukan jalan keluar bagi krisis ekonomi merupakan salah satu penyebab kemunduran bumi pertiwi. Begitu juga dimensi-dimensi lain dimana masing-masing pribadi bergerak sendiri untuk memenuhi kebutuhan dan keuntungan pribadi. Mereka memang manusia-manusia brilian dan jenius tetapi seperti lidi yang berserakan, tidak terorganisasi menjadi kekuatan bangsa di bawah sebuah kepemimpinan yang solid. Kepemimpinan yang kuat dan baik tidaklah menjamin semua kesulitan kita selesai, tapi kepemimpinan yang kuat dan baik memastikan bahwa semua solusi strategis dan teknis yang kita rumuskan dapat bekerja secara benar dan efektif. Tapi, itu pulalah yang menjadi kunci masalah dimana semua berakar dari sana : krisis akhlak dan kepemimpinan.
Jika kita menyusuri sejarah bangsa ini, kita akan bertemu generasi 1900-an yang mempelopori kebangkitan nasional dengan terbentuknya Boedi Oetomo sebagai organisasi yang boleh dikatakan sebagai titik awal terbentuknya organisasi yang bersifat nasional. Dilanjutkan dengan perjuangan generasi 1928 yang berhasil mempelopori persatuan nasional melalui Sumpah Pemuda. Lalu, kita akan bertemu dengan generasi 1945 yang mempelopori perjuangan kemerdekaan dan generasi 1966 yang berhasil mengakhiri rezim Orde Lama. Semua angkatan itu silih berganti sampai datang angkatan 1998 yang mampu menumbangkan rezim Orde Baru. rangkaian sejarah ini membuktikan bahwa peran pemuda sangat dinantikan untuk percepatan perbaikan bangsa. Mereka bersatu dengan meluruskan akhlak dan niat untuk menuju perbaikan Indonesia. Mereka bergerak di bawah kepemimpinan yang jelas dan terarah. Mereka bersatu padu seperti seikat sapu lidi yang mampu membersihkan sampah-sampah yang berserakan.
Indonesia membutuhkan peran kita saat ini. Kita sebagai mahasiswa misalnya, menjadi profesional di bidang kita adalah salah satu cara yang paling efektif. Berkumpul bersama dengan pemuda lain yang memiliki visi searah lalu kita membentuk sebuah gerakan nonanarkis yang tersusun secara rapih. Lalu kita berusaha menuju ke sektor-sektor penting yang menjadi pusat pengambil keputusan atau sektor yang menguasai hayat hidup bangsa ini. Kita bergerak bersama dengan tujuan untuk memperbaiki bangsa ini. Kita bergerak dibawah arahan yang jelas. Karena itu kita butuh pemimpin yang mampu menjalankan fungsi pembangkit kekompakan agar pergerakan kita tidak mengalami perpecahan intern. Selain itu, kita butuh integritas akhlak dan kepribadian. Sikap-sikap ini dapat dilatih dengan cara aktif di organisasi seputar kampus atau lingkungan masyarakat. Banyak ilmu yang dapat ditimba di sana. Pendewasaan pikiran, peningkatan daya analisis, dan kemampuan untuk bekerja dalam tim dapat kita peroleh. Semakin strategis jabatan dalam organisasi maka semakin banyak hal yang dapat diperoleh untuk pengembangan diri dan wawasan. Berbagai elemen bangsa Indonesia harus bangkit dan saling bahu-membahu untuk mengembangkan berbagai program persiapan dan pembinaan generasi muda yang bermuara pada pencapaian dan kapabilitas serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mumpuni

GENERASI KHAIRA UMMAH


UNISSULA SEBAGAI GENERASI KHAIRA UMMAH;
PENGAWAL GERBANG KEBANGKITAN PERADABAN ISLAM
BEM PT UNISSULA


Teropong Realitas
Sejarah mencatat bahwa keberhasilan Nabi Muhammad SAW melalui ajaran Islam yang diwahyukan padanya sanggup mengantarkan bangsa Arab yang semula terbelakang, bodoh, tak berprikemanusiaan, menjadi bangsa yang maju dan berakhlak. Peradaban yang ditorehkan Nabi Muhammad SAW ini mengedepankan peradaban berdasarkan nilai-nilai agama dan kemanusiaan yang berhasil mengalahkan dua kekuatan kuat, yaitu Persia dan Romawi yang membangun peradaban dengan kekuatan materi. Bahkan harus diakui kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban Islam yang masuk ke Eropa melalui Spanyol. Di sini Islam menjadi trendsetter sebuah peradaban modern yang dibangun untuk kesejahteraan umat manusia di muka bumi ini, itulah kejayaan-kejayaan peradaban Islam masa lalu.
Flowchart: Decision: Kemunduran umat Islam saat ini lebih dipicu karena krisis ilmu. Pada hal ilmu adalah akar peradaban dan peradaban adalah buah dari ilmu pengetahuan. Sejatinya peradaban Islam ditopang oleh ilmu pengetahuan, para Ilmuwan Islam yang seribu tahun lalu adalah pembawa obor pengetahuan dengan menciptakan peradaban Islam didorong oleh penelitian dan penemuan-penemuan ilmiahnya. Akan tetapi sekarang kejayaan  itu agaknya sudah tergantikan dengan peradaban Barat yang sekuler dan materialis. Betapa tidak, menjadi trend sekarang adalah ilmu pengetahuan dan teknologi Barat, dan tidak menutup kemungkinan sudah menjadi panutan bagi negara-negara Islam dengan dalih umat Islam agar tidak dikatakan ketinggalan zaman sehingga terkesan Islam selalu mengekor pada Barat.
Kesiapan umat Islam untuk menghadapi keterpurukan dan ketertinggalan ini nampak belum terpatri dalam jiwanya. Sampai detik ini, generasi-generasi sekarang telah krisis identitas dan nyaris kehilangan jati dirinya sebagai generasi dambaan umat. Simak saja, Indonesia sebagai negara penduduknya Islam terbesar di dunia, generasinya (mahasiswa) sebagai pelopor perubahan segala aspek, telah ditemukan dalam kehidupan sehari-harinya banyak yang terjebak dalam limbah kehidupan hedonisme, sekuler, dan sangat liberal. Sehingga menyebabkan sikap individualisme,  apatis dan pasif atas dinamika sosial yang terjadi. Mahasiswa sekarang sibuk dengan akademiknya, bahkan hanya terlintas dalam pikirannya bagaimana lulus tepat waktu dan cepat bekerja. Kenapa mereka tidak menyadari bahwa mereka adalah insan terdepan dan sebagai agent of change?
Ironisnya lagi budaya intelektual mahasiswa sangat rendah bahkan hampir tak bisa dicicipi lagi oleh kalayak umum. Peran kampus sebagai penampung para intelektual tidak bisa dipisahkan dari budaya berdiskusi, membaca, menulis, dan berorganisasi yang merupakan upaya untuk menelorkan generasi-generasi yang berkompeten dan siap untuk berkompetisi, namun kini telah tergilas oleh era globalisasi yang disalahpersepsikan bagi para penikmatnya yang dapat merubah ke mindset negatif. Dari budaya-budaya di atas seharusnya ada pada diri kaum intelektual ini sudah mulai luntur dari citranya. Sebagai contoh budaya membaca dan menulis diakui telah hilang dari peredaran aktivitas mahasiswa, ini merupakan wujud kebobrokan bangsa.
Sebuah surat kabar menyatakan bahwa ”Indonesia yang berpenduduk lebih dari 225 juta jiwa baru sanggup menerbitkan sekitar 8.000 judul buku pertahun. Jumlah ini sama dengan Malaysia yang berpenduduk sekitar 27 juta jiwa dan jauh di bawah Vietnam yang bisa mencapai 15.000 judul buku pertahun dengan jumlah penduduk sekitar 80 juta jiwa.” (Kompas, 28 Januari 2009).
Potret buram di negeri mayoritas muslim ini sangat menyakitkan bagi para penghuninya “yang sadar”. Budaya membaca dan menulis memang benar-benar serius belum membumi di negeri ini. Salah satu faktor penyebabnya yaitu; di lembaga-lembaga pendidikan masih kurang adanya sarana dan prasarana khususnya perpustakaan dengan pasokan buku-buku yang bermutu dan memadai. Bagaimana mungkin bisa menguasai dunia kalau generasi masih alergi dengan buku? Bagaimana mungkin bisa merebut kembali kejayaan peradaban Islam masa lalu? Dan apakah malah merasa nyaman di tengah-tengah hegemoni peradaban Barat yang sekuler ini?
Kemunduran umat Islam saat ini lebih dipicu karena krisis ilmu. Pada hal ilmu adalah akar peradaban dan peradaban adalah buah dari ilmu pengetahuan. Maka sepakat dengan ungkapan bahwa buku adalah ”jendela dunia”. Berarti kunci untuk menguasai dunia adalah dimulai dari membaca buku, mengkaji ilmu pengetahuan yang diperoleh dari buku, kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan dan disebarluaskan ke penjuru. Aktivitas seperti ini merupakan kegiatan kreatif serta memberdayakan otak dan juga merupakan salah satu produktifitas generasi untuk menunjukkan eksistensinya di muka bumi ini.

Lahirlah Khaira Ummah

Oval: Dalam rangka mencetak generasi Khaira Ummah, Unissula selain sudah mengetuk palu cyber sebagai alat penunjang utama sehari-hari, tetapi tetap harus melihat kondisi mahasiswanya yang masih haus memerlukan adanya wadah penampung para penerus estafet ilmuwan dan pemikir muslim untuk ikut andil memberi ide-ide maupun gagasan-gagasan kreatif yang selama ini terbungkamKondisi yang mencekam ini, sangat membutuhkan sosok generasi yang bisa membawa perubahan,  yaitu satu generasi baru yang tangguh “Khaira Ummah” sebagai generasi terbaik sebagaimana terlukiskan dalam Al-Qur’an (QS. Ali Imran : 110). Generasi yang telah diturunkan Allah SWT di muka bumi ini untuk menjadi pemimpin dan pelopor yang sanggup memimpin dunia dengan penuh kerahmatan. Dan tidak kalah pentingnya generasi ini juga ditugasmuliakan untuk menegakkan sendi-sendi kehidupan Islam, yaitu senantiasa menegakkan amar ma’ruf  dan nahi munkar dengan berdasarkan atas keimanan kepada Allah SWT.
Kehadiran Khaira Ummah penuh berharap bisa menjawab tantangan dan keterpurukan yang menjerat umat Islam saat ini. Karena terpikul di pundaknya menyanggupkan diri  membuat dunia baru, membawa kerahmatan yang dapat menghapus ketidakadilan,, keterpurukan, kebodohan, dll. Maka generasi Khaira Ummah ini tentunya dengan kegigihannya yang didasari ilmu tinggi dan akhlak mulia sangatlah mampu untuk merebut kembali peradaban Islam yang runtuh.
Tepat sekali ketika Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang yang menetapkan visinya sebagai Universitas terkemuka dalam melahirkan generasi ”Khaira Ummah”, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, membangun kesejahteraan masyarakat dan mengembangkan peradaban Islam menuju masyarakat sejahtera yang dirahmati Allah SWT dalam kerangka rahmatan lil alamin.
Sebagai Universitas yang sudah mencanangkan diri The First World Class Islamic Cyber University ini menetapkan salah satu strategi untuk meraih visinya tersebut dengan melalui program Budaya Akademik Islami (BudAi) ditopang dengan cyber yaitu menuju dunia digitalisasi yang ke depannya mengakses segala kebutuhannya untuk meraup ilmu, baik yang berhubungan dengan materi perkuliahan maupun wacana-wacana yang lain dengan menggunakan sistematisasi secara elektronik. Dan Universitas ini juga menuntut civitas academikanya untuk cakap berbahasa Inggris dalam aktivitasnya sehari-hari. Upaya-upaya Unissula ini semata-mata untuk mencetak generasi Khaira Ummah yang disiapkan untuk membawa panji-panji Islam ke penjuru dunia, sanggup berkompetisi di tataran dunia dan bisa menjawab tantangan zaman yang sekarang ini dikuasai kaum Barat.
Perlu Wadah; “Pers Mahasiswa”
Dalam rangka mencetak generasi Khaira Ummah, Unissula selain sudah mengetuk palu cyber sebagai alat penunjang utama sehari-hari, tetapi tetap harus melihat kondisi mahasiswanya yang masih haus memerlukan adanya wadah penampung para penerus estafet ilmuwan dan pemikir muslim untuk ikut andil memberi ide-ide maupun gagasan-gagasan kreatif yang selama ini terbungkam dan mungkin masih menyumbat di pikiran yang belum sempat tertumpah dalam lembaran-lembaran kertas. Maka diperlukanlah wadah pemikiran atau dapat disebut “pers mahasiswa” agar ide dan gagasan dapat tersalurkan dengan tertata rapi secara tekstual dan sistematis. Dari sini sangatlah mutlak diperlukan di lingkungan mahasiswa upaya membudayakan menyampaikan ide di pers mahasiswa (majalah) ini nantinya menjadi jamu yang paling murah, tapi mujarab dalam mengobati lemahnya kemampuan berpikir kritis generasi.
Senada dengan jargon kampus kita tercinta Unissula yaitu; “Bismillah Membangun Generasi Khaira Ummah”, cukup beralasan dan sangat tepat jika Khaira Ummah dijadikan sebagai sebuah nama majalah BEM-PT Unissula dengan harapan menjadikannya wadah pemikiran-pemikiran umat yang berada di garis terdepan di berbagai bidang. Tepatnya pada awal Mei 2010 BEM-PT Unissula periode 2009/2010 mencetuskan majalah Khaira Ummah sebagai pers mahasiswa Unissula. Karena menyadari bahwa banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh menggeluti dunia pers. Seorang mahasiswa, aktivitas semacam ini sebagai ajang untuk membudayakan penyampaian ide-ide maupun gagasan-gagasan sebagai wujud kepekaan terhadap kondisi lingkungan yang ada, dan tidak ketertinggalan zaman dengan mengkaji era globalisasi yang tidak bisa dipisahkan dengan teknologi dan informasi, serta siap berkompetisi di tataran dunia sekalipun. Sehingga tidak lepas dengan mengawal kampus tercinta Unissula menuju The First World Class Islamic Cyber University.
Dengan niat yang luhur, Khaira Ummah sebagai nama majalah BEM-PT Unissula telah memegang erat Visi: “Mengawal Gerbang Kebangkitan Peradaban Islam”
Dengan Misi:
@ Mensyi’arkan potensi ke-Islaman guna terciptanya generasi yang berilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang siap bersaing serta berakhlak mulia
@ Mengasah daya pikir kritis, sistematis dan analisis solutif mahasiswa sebagai penerus estafet ilmuwan dan pemikir muslim.
@ Menjadi media komunikasi antara pemangku kebijakan (Pimpinan Universitas) dan mahasiswa.
@ Memperkuat Ukhuwah Islamiyah antar civitas akademika.
Melalui visi dan misi ini, dan ditopang dengan  pemahaman mendalam bahwa Unissula adalah satu diantara sekian gerbang dunia menuju kebangkitan pearadaban Islam dengan generasi khaira ummahnya, dibekali dengan BudAi dan cyber. Maka majalah Khaira Ummah hadir memberi warna sebagai media untuk berjuang kritis yang sangat efektif, efisien dan praktis memenuhi kebutuhan masyarakat dewasa ini. Serta sebagai ajang untuk memberi semangat pada generasi sekarang agar nantinya tangguh sanggup mengawal gerbang kebangkitan peradaban Islam, dengan pengorbanan dan perjuangan yang sungguh-sungguh menerapkan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Begitu juga dengan gigih menegakkan kembali bangunan ilmu pengetahuan, pada akhirnya wujudlah bangunan peradaban Islam yang cemerlang nan kokoh sampai akhir zaman.
Namun, dengan catatan untuk menghadapi hegemoni Barat ini bukan hanya melulu dengan ilmu pengetahun dan teknologi yang notabene materialistis, tetapi juga menghadapinya tetap dengan mengedepankan nilai-nilai agama (Islam) dan kemanusiaan dengan penuh kasih sayang, keadilan, ketentraman, kemakmuran, dan kesejahteraan. Karena mengingat munculnya generasi Khaira Ummah melainkan hanyalah untuk kerahmatan umat di muka bumi, bukan untuk merusak ataupun membantai satu dengan yang lainnya.



PENDIDIKAN NASIONAL KAPITALISME


PENDIDIKAN NASIONAL KAPITALISME

            Melihat pendidikan nasional kita saat ini, bongkar pasang sistem pendidikan nasional terus dilakukan guna mencari format yang tepat dengan semangat kapitalisme yang mengedepankan individualisme dan laba (profit oriented). Semangat ini mengakibatkan pendidikan menjadi kian mahal dan tidak bisa diakses oleh mayoritas rakyat Indonesia; sekitar 32 juta rakyat Indonesia sesungguhnya adalah buruh tani dan ada 90 juta jiwa petani gurem, 100 juta jiwa buruh tidak bisa mengakses pendidikan yang berkualitas sampai pada perguruan tinggi. Anak putus sekolah sekitar 4,5 juta jiwa, rasio partisipasi pendidikan penduduk Indonesia baru sebesar 68,4% dan tingkat pendidikan Indonesia rata-rata hanya sampai SMP. Sekitar 75-80% (7-8 orang dari tiap 10 orang) pelajar setingkat SD sampai SMA putus sekolah. Kurang lebih 60% (6 orang dari setiap 10 orang) pelajar setingkat SMU tak mampu  melanjutkan ke bangku  kuliah. Sementara subsidi yang diberikan oleh pemerintah dalam sektor publik termasuk pendidikan semakin menurun. Tahun ini saja pemerintah hanya mengalokasikan dana sebesar Rp 144,4 triliyun atau 14,3% dari total APBN 2010 untuk subsidi sektor publik, ini lebih rendah dari anggaran subsidi pada APBN-P 2009 yang mencapai Rp157,727 triliun.
Penyerahan pengelolaan SDA yang tidak diperlukan bagi kepentingan rakyat, perjanjian perdagangan bebas membuat pendapatan Negara semakin menurun yang berimbas pada subsidi-subsidi sosial, termasuk pendidikan. Dalam pencarian dana oprasional inilah kapitalisasi pendidikan itu bermula. Lembaga-lembaga pendidikan mulai melakukan kerjasama dengan kaum modal, menaikan biaya pendidikan, membuka program-program studi yang berkaitan langsung dengan industri dan sebagainya.

Inilah ruang intervensi kaum modal terhadap dunia pendidikan, intervensi dan perhubungan ini mengakibatkan:
Pertama, intervensi kapitalisme dalam dunia pendidikan mengakibatkan praktek-praktek pendidikan yang lebih mendukung kontrol-kontrol ekonomi oleh khas borjuasi (kaum modal).
Kedua, hubungan kapitalisme dengan ilmu pengetahuan telah mendorong Ilmu Pengetahuan yang hanya bertujuan untuk mendapatkan profit material dibandingkan untuk membangun tatanan masyrakat yang berkeadilan dan bermartabat.
Ketiga, hubungan antara kedua-duanya telah meletakkan dasar bagi ilmu pendidikan yang berorientasi pada tata cara produksi kapitalistik.
Praktek, intervensi dan hubungan ini dilegalkan dengan berbagai aturan hukum yang ada; Undang-undang Sistem Pendidikan (UU SISDIKNAS) No.20 tahun 2003, Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang kini sudah dibatalkan, Peraturan Presiden (Perpres) No.77 tahun 2007 dan beberapa peraturan lainnya. Pencabutan UU BHP dilakukan oleh Mahkamah Kontitusi pada akhir maret lalu, sedikit memberi ruang bagi rakyat Indonesia untuk terus berjuang melawan kapitalisasi pendidikan.  Karena pembatalan UU BHP bukanlah jaminan dihentikanya kapitalisasi Pendidikan yang selama ini terjadi memberatkan rakyat Indonesia.
Dengan jumlah penduduk miskin Indonesia yang ada sekarang dan semakin butuhnya SDM tidak hanya tetrampil tapi juga memiliki cara berfikir yang bisa membangun perdaban manusia yang lebih adil dan makmur. Esensi UU BHP adalah dia memberikan legitimasi prkatek-praktek komersialisasi pendidikan dan pelepasan tangggung jawab Negara yang jauh-jauh sebelumnya UU BHP ada, praktek itu sudah ada. Artinya, pembatalan UU BHP tidak akan memberikan kontribusi besar dalam menghadang praktek kapitalisasi pendidikan, tapi pembatalan itu semakin memberikan ruang bagi gerakan rakyat dan mahasiswa untuk melawan kapitalisasi pendidikan.


MEMUSNAHKAN PLAGIAT DI BUMI PERTIWI


MEMUSNAHKAN
PLAGIAT DI BUMI PERTIWI

Sejumlah tindakan amoral masih saja terus mewarnai dunia pendidikan kita, salah satunya adalah penjiplakan karya tulis ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen, bahkan guru besar. Sungguh sangat ironis, sebab hakikatnya mereka adalah aset terbesar bangsa yang melalui tenaga dan pikirannya, diharapkan mampu memajukan atau memberi kontribusi positif bagi bangsanya, namun sebaliknya mereka malah mencoreng dan menurunkan harkat martabat bangsa. Bila kita rasakan, dampak negatifnya banyak sekali. Diantaranya, fakta membuktikan bahwa sumber daya manusia negeri yang beriklim tropis ini tengah dilanda krisis intelektual, mentalitas insaninya kian bobrok, serta kualitas kaum terpelajarnya yang keropos karena hasil karya tidak sesuai dengan kompetensi. Kita tak boleh mengambil hak cipta intelektual seseorang. Ketika kita masih tetap melakukannya, secara otomatis kita telah melanggar UU Nomor 19 Tahun 2002. Artinya, hukuman pidana atau perdatapun sah dan siap untuk menjerat leher kita.

Tiga Terobosan Jitu

Akar penyebab terjadinya penjiplakan ada tiga faktor, yakni rendahnya integritas pribadi, ambisi mendapatkan tunjangan finansial, serta kurang ketatnya sistem di perguruan tinggi. Menanggapi tiga sebab merebaknya penjiplakan yang telah diutarakan oleh Mendiknas tersebut, saya ingin menawarkan tiga terobosan untuk memusnahkan atau setidaknya meminimalisir praktek penjiplakan di bumi pertiwi. Pertama, Perlu peningkatan integritas pribadi, yaitu dengan cara membumikan budaya baca, tulis dan diskusi. Untuk membumikan budaya-budaya tersebut, tentu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, melainkan dibutuhkan kerjasama yang solid dan harmonis antara pustakawan dan dosen. Sedangkan dosen bisa dengan cara mengusulkan bahan pustaka yang dibutuhkan kepada pustakawan, lalu menugaskan mahasiswanya untuk mengakses informasi terkait dengan mata kuliahnya di perpustakaan. Kedua, menanamkan nilai-nilai hidup sederhana serta membekali mahasiswa dengan karakter, budi pekerti dan humaniora. Sebab, sejatinya miskinnya budi pekerti dan sifat manusia yang selalu kuranglah penyebab dari ambisi memperoleh tunjangan finansial. Ketiga, sistem di perguruan tinggi terkait penulisan karya tulis ilmiah harus diperketat. rmat seefektif dan seefisien mungkin agar peserta didik tak lagi memiliki celah dan peluang untuk menjiplak. Yaitu dengan cara membentuk database tentang hasil penelitian. Termasuk skripsi, tesis, dan desertasi.

Obat Terakhir

Terlepas dari tiga penyebab terjadinya praktek plagiat yang telah diutarakan Mendiknas di atas, ada satu aji pamungkas atau obat terakhir agar plagiator atau tikus akademik benar-benar merasa kapok dan tidak berani mengulangi untuk yang kesekian kalinya. Ibarat orang makan nasi, aji pamungkas tersebut adalah buahnya. Yakni, pengimplementasian UU Nomor 19 Tahun 2002 perihal hak cipta secara baik dan benar. Mengapa? karena kendati Undang-Undang telah disahkan oleh yang berwenang, durasi waktu hukuman pidana dan jumlah uang hukuman perdatapun juga sudah ditentukan. Namun hal itu belum bisa memberi jaminan secara pasti, bahwa akan terbasmi dan musnahnya plagiat di negeri kita tercinta ini, mengingat undang-undang tidak akan pernah mampu berlaku sebagaimana mestinya dan menghukum orang yang seharusnya terjerat hukum, tanpa adanya pelaku hukum yang bena-benar jujur, tegas dan tidak memihak.
Akhirnya, tak ada yang tak mungkin di dunia ini, barang siapa yang memiliki impian setinggi langit dalam hidupnya, sedangkan dia bersedia untuk bersungguh-sungguh dalam mewujudkannya, niscaya dia akan mendapatkannya. Dari hadist di atas, rasanya sudah menjadi suatu keharusan bagi kita untuk selalu optimis, yakin dan percaya bahwa kendati plagiat di dunia pendidikan kita telah bercokol lama, mendarah daging, bahkan membudaya sekalipun. Harus optimistis bahwa kita pasti mampu untuk memberantas tuntas hingga akar-akarnya. Tentunya dengan niat yang ikhlas, tekat yang kuat dan dimanifestasikan pada sikap, upaya serta tindakan nyata.

Pengikut